Jumat, 30 Oktober 2009

Aku menemukan diriku sendirian
terhasut akan slogan - slogan
sepi menjaid kawan
terjebak dalam jalan tak bertuan

aku mencoba berlari keselatan
yang kutemmukan hanya sang vesusius dalam penantian
kucoba mendaki utara
hanya kebekuan yang kudapat
lalu barat
cicero menanti sambil berteriak
" urbem..urbem mi rufe.."
tidak!!!
aku tak boleh disana
terlalu banyak paradigma yang harus kutelan

aku lebih suka caraku


keempat penjuru mata angin hanya menyisakan satu
untukku mencari

timur....
kucoba selangkah..
tak pasti,,

ah matahari terlalu menyengat
aku berlari kebelakang
sambil membunyikan semua lonceng
yang tiba - tiba bertebaran disekelilingku

mereka memantulkan sinar bayi matahari
apa pula ini??

tiba - tiba semua ikut menusuk mataku dengan cahayanya yang tajam
seketika aku buta..
semua menjadi putih
akupun berontak

hai....
lihatlah dari arahku melihat
cahaya yang kau beri justru membuatku gelap!

lalu kutemukan diriku melolong
menyedihkan...
apa yang salah?

aku hanya perlu lilin
kenapa yang ada matahari?
aku perlu hati
kenapa yang ada justru belati??

Jumat, 02 Oktober 2009

Pamit

Aku pamit,
bukan untuk pergi meninggalkan raga
bukan untuk menjauh
bukan untuk pergi jauh

aku pamit
karena ku akan pergi
meninggalkan setiap kisah yang telah terukir

aku pamit
karena setiap kata yang telah kau dengar
takkan bisa lagi kau putar ulang

aku pamit
untuk diriku yang kau kenal

aku pamit
ucapkan selamat jalan untuk aku yang kau kenal

aku pamit
untuk diri ini

aku pamit
karena esok yang kau temukan bukan lagi aku
namun diri lain yang berbeda

aku pamit
karena sepatu, ransel dan jubah penuh kisah nestapa bahagia
telah kutanggalkan

aku pamit
jangan tunggu aku kembali
karena aku takkan kembali