Di Indonesia begitu banyak penulis yang patut diacungi jempol, karena karya – karyanya yang orisinil dan bermutu. Dan kita patut bangga karena salah satu putra Banyumaspun ada yang termasuk dalam penulis yang diperhitungkan. Novelnya sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Diantaranya Bahasa Cina, Inggris, Belanda Indonesia dan juga dalam bahasa Banyumas. Tentunya semuanya sudah tahu siapa beliau ini, Ya! Beliau adalah bapak H. Ahmad Tohari putra Banyumas yang namanya sudah dikenal dunia internasiaonal karena karya- karyanya yang bermutu. salah satu karyanya yang paling mutakhir adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Sebuah trilogy yang mengisahkan tentang beratnya perjuangan untuk menjadi orang baik.
Bapak Ahmad Tohari adalah sosok yang begitu kharismatik dan juga bersahaja. Kesuksesannya dibidang tulis menulis ia mulai sejak duduk di bangku SMA, waktu itu hasratnya untuk menulis tumbuh saat ia melihat dan merasakan sendiri begitu banyak kejadian besar yang begitu mengena dibatinnya mulai dari PKI hingga kejadian – kejadian lain yang terjadi di daerahnya, tetapi tak ada seorangpun yang mencoba mengabadikan kejadian itu, karena hal itu, timbul niatnya untuk mencoba mengabadikan hal tersebut, merasa sadar bahwa siapa yang akan memulai kalau bukan dirinya sendiri. Oleh karena hal itu beliau mulai menulis segala sesuatu yang menurut beliau begitu berharga.
Ronggeng dukuh paruk adalah salah satu novelnya yang hingga kini masih terpajang di toko buku, entah cetakan yang ke berapa puluh kalinya, semua dapat beliau raih karena kejujurannya menuangkan ide dari setiap detail yang ia lihat, mulai dari kehidupan sehari – harinya sebagai anak desa,
sebagai orang yang dilahirkan di zaman
pergerakan dan juga sebagai seorang manusia biasa yang juga merasakan cinta. Kesemuanya itu beliau kombinasikan sebagai sebuah trilogy yang tidak muluk – muluk tapi mengena dihati setiap pembacanya.
Pada tahun 1962 setelah lulus SMA di Purwokerto beliau kuliah difakultas Kedokteran dan fakultas social politik tapi tidak sampai lulus. Kemudian beliau bekerja di BNI,redaktur harian merdeka, redaktur majalah Amanah di Jakarta. Namun saat kesuksesan di depan mata, beliau memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di desa tinggar jaya, Wangon. Karena beliau menganggap disitulah tempat terbaik baginya, dan terus melanjutkan kesenangannya, menulis, hingga kini.
Telah banyak penghargaan yang sudah beliau dapatkan diantaranya cerpen beliau yang berjudul Jasa – jasa buat sanwirya, mendapat hadiah hiburan sayembara kincir emas radio Nederland wereldomroep dan pada tahun 1976 diterbitkan dalam antalogi Dari jodoh sampai supiyah. Tahun 1980 novelnya yang berjudul kubah memenangkan hadiah yayasan buku utama, tahun 1982 ronggeng dukuh paruk dan tahun 1986 terbit dalam bahasa jepang, 1985 lintang kemukus dinihari dan tahun 1986 jentera bianglala meraih hadiah yayasan buku utama, di kaki bukit cibalak merupakan pemenang salah satu hadiah sayembara mengarang roman DKJ 1979,Senyum karyamin, Bekisar merah, Kiai sudrun gugat, Nyanyian malam, dan orang – orang proyek adalah novel dan kumpulan cerpen yang sudah beredar. Pada tahun 1990 beliau sempat mengikuti international writing program di lowa city A.S dan tahun 1995 menerima SEA write Award (hadiah sastra ASEAN) dari kerajaan Thailand.
Kesemua penghargaan itu beliau dapatkan sebagai hasil dari jerih payahnya yang tidak kenal putus asa untuk terus berkarya, dan menurut Bapak kelahiran 13 Juni 1948 ini, menulis erat hubungannya dengan membaca, jadi barang siapa ingin menjadi penulis yang baik, perbanyaklah membaca , terus mencoba untuk menulis, biasakan diri untuk menulis buku harian, karena dengan kita menulis buku harian, kita sedang belajar untuk menggambarkan perasaan dalam bentuk kata – kata, berani untuk menuliskan setiap gagasan atau ide yang setiap saat melintas di benak kita serta jangan pernah berhenti di tengah jalan jika kita sedang menulis sebuah karya. Itu adalah saran – saran dari beliau jika kita ingin menjadi penulis seperti beliau, yang namanya telah mengharumkan nama bangsa dikancah internasional. Beliau juga berkata bahwa, setiap ide, tidak datang dengan sendirinya tapi ide datang jika kita menggunakan otak kita setiap kali kita menemukan atau melihat sesuatu karena ide tidak akan datang sendiri jika kita tidak mencarinya. Beliau juga menambahkan bahwa menulis bukanlah sebuah pekerjaan yang hanya mengandalkan otak dan berpusat pada uang tapi menulis lebih cenderung ke hati dan juga jauh dari kata materi. Jadi, siapa yang ingin menyusul?