Beberapa waktu yang lalu saya terhenyak oleh sebuah film dokumenter yang ditayangkan oleh TVRI. Film itu membuat saya sadar, apa penyebab perbedaan kesuksesan antara Indonesia dan Jepang. Pada film tersebut juga membuka mata saya bahwa tak ada istilah bagai punuk merindukan bulan bagi orang – orang yang mau berusaha keras.
Film dokumenter tersebut dikisahkan tentang perjuangan perusahaan Soichiro Honda mencapai puncak. Perusahaan Soichiro Honda adalah perusahaan mobil dan motor yang sudah sangat kita kenal, diceritakan bahwa pada tahun 1970an di Jepang telah terjadi persaingan sengit antara dua perusahaan mobil terkemuka Nissan dan Toyota, saat itu Honda adalah sebuah perusahaan motor. Melihat pasaran mobil yang gemilang, Soichiro Honda dan 400 insinyur muda perusahaan Honda mencoba membuka usaha di bidang mobil. Soichiro adalah seorang pemimpin yang lebih suka bekerja di lapangan bersama para insinyur muda berbakat mencoba mencari terobosan baru, urusan bisnis ia serahkan pada bidang management, Soichiro Honda adalah sosok pemimpin yang sangat tegas dan disiplin, dan sifat itulah yang melekat erat pada setiap orang Jepang, yang terbukti dengan memiliki sikap tersebut mereka mampu meraih kesuksesan.
Pada waktu itu para insinyur dari Honda telah membuat mobil dengan harga terjangkau dan mengandalkan kecepatan, mereka mengeluarkan mobil N360 yang sudah bisa didapatkan hanya dengan 432.000 yen. masyarakat jepang menyambut dengan antusias peluncuran mobil tersebut hingga penjualan mobil di jepang naik sangat drastic. Namun ditengah kemenangan Honda meraih laba besar, para insinyur salah satu bagian di pabrik Honda menemukan fakta bahwa emisi yang dihasilkan oleh mobil mereka yang mengandalkan kecepatan, tersimpan gas buang yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh dan lingkungan. Mengetahui kenyataan tersebut mereka tak tinggal diam, mencoba mencari cara agar gas buang tidak terlalu membahayakan bagi kesehatan mereka beranggapan bahwa mereka akan merasa berharga jika bisa menyelamatkan lingkungan dan birunya langit dari kehancuran. Setelah melakukan riset ternyata hal tersebut dapat ditanggulangi dengan pengurangan jumlah bahan bakar yang digunakan, tetapi dengan menerapkan hal tersebut maka kecepatan kendaraan akan berkurang. Tak tahu harus bagaimana, ditengah kebingungan yang melanda, terjadi bencana yang hampir saja menenggelamkan nama Honda, beberapa siswa-siswi sekolah menengah atas dijepang, yang sedang berjalan di trotoar, pingsan karena terlalu lama menghirup gas buang mobil. Dan sejak kejadian itu, sontak penjualan mobil N360 milik Honda merosot tajam, amerika juga mengeluarkan uu yang disebut uu muskie yang berisi tentang perizinan mobil yang boleh beredar di amerika, harus lulus standar emisi yang begitu berat. Para ilmuan merasa tertantang dan berusaha untuk menembus uu muskie walau itu sangat berat mereka harus lulus standar emisi yang saat itu masih dalam kisaran 1/10 saja begitu beratnya. Para ilmuan tadi menerapkan teknologi hasil ciptaan mereka dengan cara mencoba memisahkan bagian bahan bakar menurut kegunaannya, namun, ternyata mesin tersebut tidak layak karena modelnya jadi sangat besar dan juga buruk. Hal tersebut membuat soichiro geram dan tetap keras kepala dengan pikirannya yang selalu menomor satukan kecepatan. Hal itu membuat para insinyur muda memutar otak dan melakukan perundingan disebuah villa empat hari empat malam tanpa tidur, mencoba membahas bagaimana caranya agar Honda dapat bangkit dan lulus standar emisi uu muskie,dan mereka hanya mempunyai waktu enam bulan untuk menyelesaikan 800 masalah. Saat para ilmuan sedang kebingungan bagaimana caranya, mereka mendengar bahwa Rusia yang saat itu sedang kekurangan SDA membuat mobil dengan penggunaan bahan bakar yang sedikit, mereka mencoba menerapkan hal tersebut pada mobil mereka, dan lahirlah mobil Honda CCVC, mobil tersebut kemudian mereka bawa ke amerika untuk melakukan test, ternyata tidak semudah itu untuk meluluskan mobil mereka, tiga kali percobaan ternyata hasilnya sangat mengecewakan, kandungan emisinya begitu tinggi bahkan melampaui kandungan emisi mobil mereka yang terdahulu, dan menjelang kesempatan test yang terakhir, malam harinya mereka mencoba memikirkan sesuatu tentang apa sebenarnya yang salah dan mereka menemukan sesuatu, diatas tempat bahan bakar mereka beri sebuah mesin kecil yang kira – kira hanya sebesar tutup botol air mineral dan ternyata mesin tersebut membawa dampak yang amat luar biasa, mereka lulus!
Tahun 1972 mereka dinyatkan lulus, nama Honda melambung kembali, soichiro yang ditanyai komentarnya tentang hal itu hanya menggambarkan dua bunga dendelion berwarna merah muda, bunga yang hanya bisa tumbuh ketika musim dingin diantara salju yang dinginnya begitu menusuk tulang. Bunga tersebut melambangkan kerja keras bawahanya yang tumbuh dan berbunga meski dalam kecaman yang amat dahsyat baik dari orang lain dan juga dari atasannya sendiri. Dan tahun itu juga Soichiro memutuskan untuk mengundurkan diri.
Mungkin hal itu bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kesuksesan yang dimiliki jepang sekarang, bukan hanya sebuah hoki semata, dibalik kejayaannya tersimpan kerja keras, keuletan dan sikap pantang mundur yang mereka tanam sebagai modal dasar, perjuangan mewujudkan mimpi, menjaga birunya langit untuk anak cucu. Mungkin jika kita bisa meniru sikap mereka, negara berikutnya yang akan menyusul kesuksesan jepang adalah Indonesia.
Minggu, 14 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar